Makalah
Belajar
Pembelajaran
Pengertian
Belajar dan Pembelajaran Menurut beberapa Teori
Kelompok
5:
Panji
Anum 1200487
Rahma
Tika 1200822
Suci
Muharni 1200818
Minda Eka Putri 1200795
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A..Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha
sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak
terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.
Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang
disampaikan. Namun bagaimana melibatkan
individu secara aktif membuat atau pun
merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang
bermanfaat bagi pribadinya. Pembelajaran merupakan suatu sistim yang membantu
individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.
Guru
sebagai orang yang menggerakkan terlaksananya proses belajar mengajar
seharusnya tidak hanya menggunakan strategi yang informasi saja.sehingga
membuat siswa kurang inisiatif dan di biasakan untuk mendapat pengetahuan
dariusaha atau pengalaman siswa itu sendiri.Hal ini di karenakan peran siswa
lebih bayak hanya menerima informasi dari guru yang kemudian di hafal untuk
ujia atau mendapatkan nilai.Guru sebagai orang menggerak terlaksananya proses
belajar harus menggunakan strategi yang membangkitkan keaktifan siswa.Guna
membangkitkan siswa untuk menumbuh sejumlah keterampilan tertentu pada diri
peserta didik tersebut.Guru harusnya melihat cara-cara pemberian informasi dan
suasana interaksi dalam proses belajar mengajar.seperti mendengar memperhatikan
guru,kemudian melakukan apa yang di perintahkan guru dalam membimbing siswa itu
untuk aktif belajar.
B. Rumusan Maslah
a. Apa Rasional PKP ?
b. Apa pengertian pendekatan keterampilan proses ?
c. Hal-hal apa saja yang harus di perhatikan ?
d. Bagaiman peran guru dalam penerapan PKP?
e.
Bagaiman
Model-model mengajar dalam PKP?
C. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menenuhi tugas belajar pembelajaran,dan diharap
kan dengan adanyanmakalah ini diharapkan pembaca yang memungkinkan menjadi
sebagi seorang pendidik memahami bahwa dengan keterampilan proses para pendidik
mampu mengerakan siswa-siswanya untuk aktif dalam prosese belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Belajar dan Pembelajaran
menurut beberapa Teori
a.
Teori
Behaoristik/Tingkah Laku
Beberapa teori belajar
dari psikologi behavioristik yang dikenal dengan S----R psikologis .Mereka
berpendapat tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau
penguatan (reinforcement) dari lingkungan.Perkembangan teori ini dipelopori
oleh Thorndike, Iva Pavlov,Watson dan Guthrie.
Belajar menurut teori ini adalah perubahan dalam tingkah
laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulasi dan respon atau lebih tepat
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuanya untuk bertingkah laku dengan
cara yang baru sebagai hasil interaksi antara simulasi dan respon.Meskipun
semua penganut ini setuju dalam premis
dasar namun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal penting.Berikut ini kita
kaji hasil karya dari beberapa penganut aliran ini yang paling penting yaitu
thorndike,Watson,Hull,Guthrie dan Skinner.
1.
Thorndike
Menurut
thornkin. salah satu pendiri aliran tingkah laku adalah proses interaksi antara
stimulus (mungkin berupa pikiran,perasaan atau gerak) dan respon (bias
berbentuk pikiran perasaan dan gerakan),jelasnya menurut thomdike,perubahan tingkah
laku itu berupa wujud sesuatu yang kogrit (dapat di amati) atau yang non kogrit
(tidak bisa di amati).
2.
Watson
Menurut
Watson,stimulasi dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa di
amati (observable) dengan kata lain ,waston mengabaikan berbagai perubahan
mental yang mukin terjadi dalam belajar menggabungkan sebagai paktor yang tak perlu
di ketahui.Bukan semua perubahan mental yang mukin terjadi dalam benak siswa
penting tapi,factor-faktor tersebut tidak menjelaskan apakah proses belajar
sudah terjadi atau belum.
3.
Clark Hull
Clark
hull sangat berpengaruh oleh teori evolusinya,Charles bagi hull seperti dalam
teori evolusi semua fungsi tingkat bermamfaat terutama untuk menjaga
kelangsungan hidup,karena itu teor hull kebutuhan biologis dan pemuasan
kebutuhan menempatkan posisi sentral stimulus hampir dikaitkan dengan kebutuhan biologis
ini,meskipun respon mungkin bermacam-macam bentuknya.
4.
Edwin Guthrie,stimulus tidak terbentuk
kebutuhan biologis yang terpenting dalam teori Guthrie adalah bahwa antara
hubungan stimulasi yang sering agar hubungan ini menjadi lebih langsung.selain
itu suatu respon berhubungan denga stimulus.
5.
B.f Skinner
B.F. Skinner
adalah tokoh yang datang kemudian, mempunyai pendapat lain, yang ternyata
mempumyai pamor teori – teori, Hull dan Guthrie. Hal ini mungkin karena
kemampuan Skinner dalam “menyederhanakan kerumitan teorinya serta menjelaskan
konsep – konsep yang ada dalam teorinya itu.Menurut Skinner, deskripsi hubungan
antara Stimulus dan Respon untuk me-nyelesaikan perubahan tingkah laku (dalam
hubungannya dengan lingkungan) menurut versi Watson deskripsi belum lengkap,
kalau respon yang diberikan oleh siswa sederhana sekali. Sebab pada dasarnya
setiap stimulus yang diberi-kan berintegrasi satu sama lainnya, dan interaksi
itu akhirnya mempengaruhi respon yang dihasilkan dengan berbagai konsekwen,
yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah lakusiswa.Karena itu, untuk
memahami tingkah laku siswa secara tuntas kita harus memahami hubungan antar
satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respon itu sendiri, dan
berbagai konsekwen yang diakibatkan oleh respon ter-sebut.
Skinner juga menjelaskan bahwa menggunakan perubahan–perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala se-suatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa” seseorang siswa yang berprestasi rendah/buruk mungkin ia sedang mengalami frustasi “akan menun-tut kita akan menjelaskan” apa itu frustasi “ dan penjelasan frustasi itu besar kemungkinan akan memerlukan penjelasan lain, begitu seterusnya.. Beberapa program pembelajaran seperti TEACHING Mach INE” Mathetic” atau program– rogram lain yang memakai konsep stimulus–respon, dan faktor penguat (REINFORCEMENT) adalah sebagian contoh program yang memanfaatkan teori. SKINNER ini. Ada enam solusi yang melandasai teori kondisioning operand B.H. SKINNER adalah
Skinner juga menjelaskan bahwa menggunakan perubahan–perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala se-suatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa” seseorang siswa yang berprestasi rendah/buruk mungkin ia sedang mengalami frustasi “akan menun-tut kita akan menjelaskan” apa itu frustasi “ dan penjelasan frustasi itu besar kemungkinan akan memerlukan penjelasan lain, begitu seterusnya.. Beberapa program pembelajaran seperti TEACHING Mach INE” Mathetic” atau program– rogram lain yang memakai konsep stimulus–respon, dan faktor penguat (REINFORCEMENT) adalah sebagian contoh program yang memanfaatkan teori. SKINNER ini. Ada enam solusi yang melandasai teori kondisioning operand B.H. SKINNER adalah
1. Belajar
itu adalah TL
2. Perubahan TL (belajar) secara fungsional
berkaitan dengan adanya peru-bahan dalam kejadian dilingkungan.
3. Hubungan antara TL dengan hukum lingkungan
4. TL
merupakan sumber informasi
5. TL.
Organisme secara individu merupakan sumber data yang cocok
6. Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan
itu sama.
b.
Teori
Kognitif
Teori kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada
hasil bela-jar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini belajar itu tidak sekedar
melibatkan hu-bungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu, belajar
melibatkan proses ber-pikir yang sangat komplek, teori ini sangat erat hubungannya
dengan teori sibernitik.
Pada masa–masa awal mulai
diperkenalkannya teori ini, para ahli mencoba men-jelaskan bagaimana siswa
mengolah stimulus dan bagaimana siswa tersebut bisa sampai ke respon tertentu
(pengaruh aliran tingkah laku masih terlihat disini). Namun lambat laun,
perhatian ini mulai bergeser, saat ini perhatian mereka terpusat pada proses
bagaimana suatu ilmu yang baru berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah
dikuasai oleh siswa.
Menurut teori
ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang individu me-lalui proses
interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan, proses ini tidak berjalan
terpatah–patah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung,
menyeluruh ibarat seseorang yang memainkan musik, orang ini tidak memakai
not–not balok yang terpampang di partitur sebagai informasi yang saling lepas
berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan yang secara utuh masuk
kepikiran dan perasaannya. Seperti ketika anda membaca tulisan ini, bukan
alfa-bet–alfabet yang terpisah–pisah yang anda serap dan kunyah dalam pikiran,
tetapi adalah kata, kalimat, paragraf, semuanya itu seolah-olah menjadi satu,
mengalir, menyerbu secara total bersamaan. Dalam praktek, teori ini antara lain
terwujud dalam tahap–tahap perkembangan yang diusulkan oleh Jean Peaget
“belajar ber-maknanya” Ausubel dan belajar penemuan yang bebas” (Free discovery
learning) oleh Jerome Bruner.
Jadi menurut aliran Kognitif ini tingkah laku individu senantiasa didasarkan ke-pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi, di dalam situasi belajar individu harus terlibat langsung yang pada akhirnya ini akan memperoleh insight untuk memecahkan masalah.
Para penganut aliran kognitif
ini adalah PIAGET , AUSUBEL dan BRUNER.
a. JEAN
PIAGET
Menurut Jean
Piaget proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahap yakni asimilasi,
akomudasi, equilibrasi (penyambungan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan
(pengintegrasian) informasi baru, kestruktur kognitif yang sudah ada dalam
benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kog-nitif kedalam situasi
yang baru. Equalibrasi adalah penyesuaian berkesenam-bungan antara asimilasi
dengan akomodasi.
Suatu contoh, seorang siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses Pengintegrasian an-tara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru) disebut proses asimilasi, jika siswa diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, ini berarti pema-kaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut terjadi dalam situasi yang baru dan spesifik.
Suatu contoh, seorang siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses Pengintegrasian an-tara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru) disebut proses asimilasi, jika siswa diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, ini berarti pema-kaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut terjadi dalam situasi yang baru dan spesifik.
Agar siswa
tersebut dapat berkembang dan menambah ilmunya, harus tetap menjaga stabilitas
mental dalam dirinya diperlukan proses penyeimbangan, proses inilah yang
disebut equalibrasi..
b. AUSUBEL
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pen-gatur kemajuan balajar (Advance Organizeis), didefenisikan dan dipresentasi-kan dengan baik dan tepat kepada siswa, pengatur kemajuan balajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.
Ausubel percaya bahwa “advance Organizers” dapat memberikan tiga macam manfaat yakni :
1. dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pen-gatur kemajuan balajar (Advance Organizeis), didefenisikan dan dipresentasi-kan dengan baik dan tepat kepada siswa, pengatur kemajuan balajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.
Ausubel percaya bahwa “advance Organizers” dapat memberikan tiga macam manfaat yakni :
1. dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.
2. dapat
berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari
olah siswa “saat itu” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa sedemikian rupa
sehingga
3. mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mu-dah.
Untuk itu pengetahuan guru terhadap isi pelajaran harus sangat baik, hanya dengan demikian sorang guru akan mampu menemukan informasi, yang me-nurut Ausubel sangat abstrak, umum dan inklusif “yang mewadahi apa yang akan diajarkan itu.
3. mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mu-dah.
Untuk itu pengetahuan guru terhadap isi pelajaran harus sangat baik, hanya dengan demikian sorang guru akan mampu menemukan informasi, yang me-nurut Ausubel sangat abstrak, umum dan inklusif “yang mewadahi apa yang akan diajarkan itu.
c. BRUNER
Bruner mengusulkan teorinya disebut Free Discovery Learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk m senemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh – contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya.
Dengan kata lain, siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu ke-banaran umum, untuk memahami konsep “kejujuran” misalnya siswa tidak pertama – tama menghafal definisi kata itu, tetapi mempelajari contoh – con-toh konkrit tentang kejujuran, dan dari contoh – contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata kejujuran..
Bruner mengusulkan teorinya disebut Free Discovery Learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk m senemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh – contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya.
Dengan kata lain, siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu ke-banaran umum, untuk memahami konsep “kejujuran” misalnya siswa tidak pertama – tama menghafal definisi kata itu, tetapi mempelajari contoh – con-toh konkrit tentang kejujuran, dan dari contoh – contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata kejujuran..
C .Teori Gestalt
Tokoh Psikologi Gestalt adalah
Wertheimer, Kohler, Kooffka. Wertheimer den-gan gejala “phi-phenomenom-nya”
merupakan penemuan yang penting, oleh ka-rena melahirkan gejala penghayatan
yang berbeda dengan unsur – unsur yang membentuknya. Gejala tersebut tidak
dapat dijelaskan melalui analisis atas unsun-unsur, meskipun hasil gejala
tersebut adalah dari unsur-unsur bagian tersebut. Jadi penghayatan psikologis
adalah hasil bentukan dari unsur – unsur pengindraan, ia berbeda antar
pengalaman phenomenologis dengan pengalaman pengindraan yang membentuknya.
Gestalt mengatakan bahwa organisme menambahkan sesuatu pa-da penghayatan yang
tidak terdapat didalam pengindraannya, maka sesuatu ada-lah organisme.
Dari sumber lain dengan gaya bahasa yang berbeda dapat dibaca pendapat gestalt sebagai berikut, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam bagian – bagian yang terpisah.Menurut gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan – hubungan, antara bagian atau keseluruhan, tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih mening-katkan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran.
Dari sumber lain dengan gaya bahasa yang berbeda dapat dibaca pendapat gestalt sebagai berikut, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam bagian – bagian yang terpisah.Menurut gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan – hubungan, antara bagian atau keseluruhan, tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih mening-katkan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran.
D.TeoriHumanistik
Teori ini menekankan kepada pentingnya “isi” dari proses belajar dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar, dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini bersifat eklektik, teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk memuliakan kemanusiaan ma-nusia (mencapai aktualisasi dan sebagainya) itu dapat tercapai.Teori humanistik sangat mementingkan si yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh Ausubel yang disebut “belajar bermakna” atau meaningfull learning (sebagai catatan, teori Ausubel ini juga dimasukkan kedalam aliran kognitif). Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk taksonomi Bloom yang terkenal itu, selain itu empat tokoh lain yang termasuk kedalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey dan Mumford serta Habermas.
a. BLOOM DAN KRATHWOHL
Teori ini menekankan kepada pentingnya “isi” dari proses belajar dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar, dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini bersifat eklektik, teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk memuliakan kemanusiaan ma-nusia (mencapai aktualisasi dan sebagainya) itu dapat tercapai.Teori humanistik sangat mementingkan si yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh Ausubel yang disebut “belajar bermakna” atau meaningfull learning (sebagai catatan, teori Ausubel ini juga dimasukkan kedalam aliran kognitif). Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk taksonomi Bloom yang terkenal itu, selain itu empat tokoh lain yang termasuk kedalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey dan Mumford serta Habermas.
a. BLOOM DAN KRATHWOHL
Bloom dan krathwohl, menunjukan
apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa yang tercakup dalam tiga
kawasan yaitu: kawasan kognitif, affek-tif, psikomotor.
1.Kognitif ada enam tingkatan
a. pengetahuan (mengingat, menghafal)
b. pemahaman (menginterpretasikan)
c. aplikasi (penggunaan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
d. analisis (menjabarkan suatu konsep)
e. sintesis (menggabungkan bagian–bagian konsep menjadi suatu konsep yang untuh)
f. evaluasi (membandingkan nilai–nilai, ide, metode, dan sebagainya)
2. Affektif terdiri dari lima tingkatan
a. pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
b. merespon (aktif berpartisipasi)
c. penghargaan (menerima nilai–nilai, setia kepada nilai–nilai tertentu).
d. Pengorganisasian (menghubung–hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
e. Pengamalan (menjadikan nilai–nilai sebagai bagian dari pola hidup)
3. Psikomotor terdiri dari lima tingkatan
a. peniruan (menirukan gerak)
b. penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c. ketetapan (melakukan gerak dengan benar)
d. perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
e. naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
Taksonomi Bloom ini telah berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar lain untuk menyumbangkan teori–teori belajar dan pembelajaran pada tingkat praktis, bahkan telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan – tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, serta dapat diukur dari beberapa taksonomi belajar. b. b.KOLB
Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap yaitu :
1) pengalaman konkrit
2) pengamatan aktif dan replektif
3) konseptualisasi
4) ekspermentasi aktif
Pada tahap yang paling dini dalam proses belajar, seorang siswa hanya mam-pu sekedar ikut mengalami suatu kejadian, dia belum memahami hakikat ke-jadian tersebut.. Pada tahap kedua siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahami, inilah yang sering terjadi pada tahap pengamatan aktif dan replektif.Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstrak atau teori ten-tang suatu hal yang pernah diamati.Pada tahap terakhir (ekspermentasi aktif) siswa sudah mampu mengaplikasi-kan suatu akurat umum kesituasi yang baru.
1.Kognitif ada enam tingkatan
a. pengetahuan (mengingat, menghafal)
b. pemahaman (menginterpretasikan)
c. aplikasi (penggunaan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
d. analisis (menjabarkan suatu konsep)
e. sintesis (menggabungkan bagian–bagian konsep menjadi suatu konsep yang untuh)
f. evaluasi (membandingkan nilai–nilai, ide, metode, dan sebagainya)
2. Affektif terdiri dari lima tingkatan
a. pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
b. merespon (aktif berpartisipasi)
c. penghargaan (menerima nilai–nilai, setia kepada nilai–nilai tertentu).
d. Pengorganisasian (menghubung–hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
e. Pengamalan (menjadikan nilai–nilai sebagai bagian dari pola hidup)
3. Psikomotor terdiri dari lima tingkatan
a. peniruan (menirukan gerak)
b. penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c. ketetapan (melakukan gerak dengan benar)
d. perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
e. naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
Taksonomi Bloom ini telah berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar lain untuk menyumbangkan teori–teori belajar dan pembelajaran pada tingkat praktis, bahkan telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan – tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, serta dapat diukur dari beberapa taksonomi belajar. b. b.KOLB
Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap yaitu :
1) pengalaman konkrit
2) pengamatan aktif dan replektif
3) konseptualisasi
4) ekspermentasi aktif
Pada tahap yang paling dini dalam proses belajar, seorang siswa hanya mam-pu sekedar ikut mengalami suatu kejadian, dia belum memahami hakikat ke-jadian tersebut.. Pada tahap kedua siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahami, inilah yang sering terjadi pada tahap pengamatan aktif dan replektif.Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstrak atau teori ten-tang suatu hal yang pernah diamati.Pada tahap terakhir (ekspermentasi aktif) siswa sudah mampu mengaplikasi-kan suatu akurat umum kesituasi yang baru.
c. HONEY DAN MUMFORD
Berdasarkan teori Kolb, Honey dan Mumford mebuat penggolongan siswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe siswa, yakni aktivis, reflektor, teoris, pragmatis.
Siswa tipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman–pengalaman baru, mereka cenderung berfikiran terbuka dan mudah diajak berdialog, namun siswa semacam ini biasanya kurang skeptis menghadap se-suatu..Siswa tipe refleksi, sebaliknya, cenderung sangat hati-hati mengambil langkah, dalam proses pengambilan keputusan, siswa seperti ini cenderung konservatif, dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruk suatu keputusan.Siswa tipe teoris, biasanya sangat kritis, senang menganalisis dan menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif bagi mereka, berfikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting mereka biasanya juga sangat se-lektif dan tidak menyukai hal- hal yang bersifat spekulatif.Siswa tepe pragmatis menaruh perhatian besar pada aspek aspek dari segala hal, teori memang penting, kata mereka, namun bila teori tak bisa dipraktek-kan, untuk apa ? mereka tidak bisa betele-tele, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekan.
d. HABERMAS
Habermas percaya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. dengan asumsi ini, dia membagi tipe belajar menjadi tiga macam yaitu :
1). Belajar teknis (technical Learning)
2). Belajar praktis (practical learning)
3). Belajar emansifatoris (emancifatory learning)
Dalam belajar teknis, siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam se-kelilingnya, mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
Dalam belajar praktis, siswa juga belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini lebih dipentingkan adalah interaksi dia dengan orang – orang sekelilingnya, pada tahap ini, pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagai suatu pemahaman yang kurang dan terlepas kaitannya dengan manusia, tetapi pe-mahaman terhadap alam itu justru relevan jika berkaitan dengan kepentingan manusia.
Sedangkan dalam belajar emansipatoris, siswa berusaha mencapai pemaha-man dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan
Berdasarkan teori Kolb, Honey dan Mumford mebuat penggolongan siswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe siswa, yakni aktivis, reflektor, teoris, pragmatis.
Siswa tipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman–pengalaman baru, mereka cenderung berfikiran terbuka dan mudah diajak berdialog, namun siswa semacam ini biasanya kurang skeptis menghadap se-suatu..Siswa tipe refleksi, sebaliknya, cenderung sangat hati-hati mengambil langkah, dalam proses pengambilan keputusan, siswa seperti ini cenderung konservatif, dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruk suatu keputusan.Siswa tipe teoris, biasanya sangat kritis, senang menganalisis dan menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif bagi mereka, berfikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting mereka biasanya juga sangat se-lektif dan tidak menyukai hal- hal yang bersifat spekulatif.Siswa tepe pragmatis menaruh perhatian besar pada aspek aspek dari segala hal, teori memang penting, kata mereka, namun bila teori tak bisa dipraktek-kan, untuk apa ? mereka tidak bisa betele-tele, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekan.
d. HABERMAS
Habermas percaya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. dengan asumsi ini, dia membagi tipe belajar menjadi tiga macam yaitu :
1). Belajar teknis (technical Learning)
2). Belajar praktis (practical learning)
3). Belajar emansifatoris (emancifatory learning)
Dalam belajar teknis, siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam se-kelilingnya, mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
Dalam belajar praktis, siswa juga belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini lebih dipentingkan adalah interaksi dia dengan orang – orang sekelilingnya, pada tahap ini, pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagai suatu pemahaman yang kurang dan terlepas kaitannya dengan manusia, tetapi pe-mahaman terhadap alam itu justru relevan jika berkaitan dengan kepentingan manusia.
Sedangkan dalam belajar emansipatoris, siswa berusaha mencapai pemaha-man dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan
e. Teori Sosial
Teori belajar sosial diawali dengan
kepercayaan bahwa proses dan isu psikologi yang penting telah diabaikan atau
hanya dipelajari sebagian–sebagian saja oleh teori–teori lain. Soal–soal yang
diabaikan itu termasuk kapasitas orang sebagai si belajar untuk berfikir
simbolik, kecenderungan orang untuk belajar dengan arah sendiri dan luasnya
faktor–faktor sosial yang dapat mempengaruhi perbuatan in-isiatif (peniruan). Menurut
terori belajar siswa, hal yang amat penting ialah kemampuan individu untuk
mengambil sari informasi dari tangkah laku orang lain, memutuskan tingkah laku
mana yang akan diambil. Teori belajar sosial Bandura oleh Albert. Bandura
berusaha menjelaskan hal belajar dalam latar yang wajar. Asumsi yang menjadi
dasar teori ini bahwa belajar sosial memberikan makna (a) hakekat belajar dalam
latar alami (b) hubungan belajar dengan lingkungan (c) definisi dari apa yang
dipelajari.
f.Teori Konstruktivistik
Para
Ahli konsrtruktivistik berpandangan bahwa pengetahuan sebagai suatu proses
pembentukan (konstruksi) yang terus berkembang dan berubah.konsep konsep yang
dulu dianggap kuat,seperti hokum newton dan fisika ternyata terus berubah
karena dapat lagi member penjelasan yang menandai (suparno 1997).
Kontruktivisme
adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita
adalah kontruksi (baetukan) kita sendiri.Glasersfeld (dalam suparno 1997)
menegaskan pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan.
g.
Sibernetik
Teori belajar
jenis ke 6 mungkin paling baru dari semua teori belajar yang kita kenal, adalah
teori Sibenertik. Teori ini berkembang sejalan dengan perkemban-gan ilmu
informasi. Menurut teori ini belajar adalah pengolahan informasi.Sekilas teori
ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yang mementingkan proses. Proses
memang penting dalam teori sibernetik. Namun yang lebih penting adalah “sistem
informasi” yang diproses itu.
Asumsi lain
dari teori sibenertik ini adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang
ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua siswa, Maka sebuah informasi
mungkin akan dipelajari seorang siswa dengan satu macam proses be-lajar dan
informasi yang sama itu mungkin akan di pelajari Siswa lain melalui proses
belajar yang berbeda.
Dalam bentuk yang lebih praktis, teori ini telah dikembangkan oleh Lauda (dalam pendekatan yang disebut “algoritmik” dan “heuristik”) Pas dan Scott (dengan pembagian siswa tipe “menyeluruh” atau Wholist” dan tipe “serial” atau “se-rialis”) atau pendekatan – pendekatan lain yang berorientasi pada pengolahan in-formasi.
Dalam bentuk yang lebih praktis, teori ini telah dikembangkan oleh Lauda (dalam pendekatan yang disebut “algoritmik” dan “heuristik”) Pas dan Scott (dengan pembagian siswa tipe “menyeluruh” atau Wholist” dan tipe “serial” atau “se-rialis”) atau pendekatan – pendekatan lain yang berorientasi pada pengolahan in-formasi.
a) Landa
Menurut Landa ada dua macam
proses berfikir yang pertama disebut proses berfikir algoritmik, yaitu proses
berfikir linear, konvergan, lurus menuju kesatu terget tertentu, Jenis kedua
adalah cara berfikir heuristik, yakni cara berfikir divergan menuju beberapa
target sekaligus.
Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari itu/masalah yang hendak dipecahkan diketahui ciri – cirinya.
Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari itu/masalah yang hendak dipecahkan diketahui ciri – cirinya.
Misalnya agar siswa mampu
memahami sebuah rumus matematika, mungkin akan lebih efektif jika presentasi
informasi tentang rumus ini disajikan secara algorirmik. Alasanya adalah sebuah
rumus matematikan biasanya mengikuti urutan tahap demi tahap yang sudah teratur
dan mengarah kesatu target tertentu.
b) Pask dan Scott
Pendekatan
serialis yang diurutkan oleh Pask dan Scott itu sama dengan pen-dekatan
algoritmik. Namun cara berfikir menyeluruh (wholist) tidak sama dengan
heusristik. Cara berfikirnya menyeluruh adalah cara berfikir yang cenderung
melompat kedepan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem
informasi.Pendekatan yang berorientasi pada pengelolaan informasi menekankan
bebe-rapa hal seperti ingatan jangka pendek (short termmemory) ingatan jangka
panjang (long termmemory) dan sebagainya.
B.Hakekat Belajar dan
Pembelajaran
a.
Hakekat Belajar
Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam
diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir,
bersikap, dan berbuat (W. Gulö, 2002: 23).Pada dasarnya belajar merupakan
tahapan perubahan prilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (syah, 2003),
dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang terdiri dari
beberapa tahap. Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar, dan
salah satu tahapannya adalah yang dikemukakan oleh witting yaitu :
- Tahap acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi;
- Tahap storage, yaitu tahapan penyimpanan informasi;
- Tahap retrieval, yaitu tahapan pendekatan kembali informasi (Syah, 2003).
Definisi yang lain menyebutkan bahwa belajar adalah
sebuah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan
tingkah laku yang menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak
dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau
pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Roziqin, 2007: 62).
Dari berbagai definisi para ahli di atas, dapat
disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu:
- Belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku (change behavior).
- Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah.
- Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial
- Perubahan tingkah laku merupakan hasillatihan atau pengalaman
- Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan..
B. Hakekat Pembelajaran
Secara umum istilah belajar dimaknai
sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu
kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku
peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24). Adapun yang
dimaksud dengan proses pembelajaran adalah sarana dan cara bagaimana suatu
generasi belajar, atau dengan kata lain bagaimana sarana belajar itu secara
efektif digunakan. Hal ini tentu berbeda dengan proses belajar yang diartikan
sebagai cara bagaimana para pembelajar itu memiliki dan mengakses isi pelajaran
itu sendiri (Tilaar, 2002: 128).
Pembelajaran pada hakekatnya adalah
proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi
perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas guru adalah
mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi
peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik
untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan
dan minatnya. Disini pendidik berperan sebagai fasilitator yang menyediakan
fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan kemampuan belajar
peserta didik.
Ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut
:
1.
Merupakan
upaya sadar dan disengaja
2.
Pembelajaran
harus membuat siswa belajar
3.
Tujuan harus
ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan
4.
Pelaksanaannya
terkendali, baik isinya, waktu, proses maupun hasil
Tujuan
Belajar dan Pembelajaran
a.
Tujuan Intruksional, Tujuan Pembelajaran, dan Tujuan Belajar
b.
Siswa dan Tujuan Belajar
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Teori Belajar Behaviorisme adalah
perubahan tingkah laku. Seseorang-dianggap telah belajar sesuatu bila ia mampu
menunjukan perubahan tingkah laku.Teori Belajar kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, Peruba-han
persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perilaku tingkah laku yang bisa
diamati (bandingkan dengan teori Bahaviorisme)Asumsi dasar teori ini adalah
setiap orang telah mempunyai pengalaman dan penge-tahuan di/dalam dirinya,
pengalaman dan pengetahuan ini tertera dalam bentuk struk-tur kognitif. Teori
belajar Gestalt mengatakan bahwa
organisme menambahkan sesuatu pa-da penghayatan yang tidak terdapat didalam
pengindraannya, maka sesuatu ada-lah organisme.Teori Humanistik menekankan kepada pentingnya “isi” dari proses belajar
dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses
belajar, dalam bentuknya yang paling idea.Teori konsrtruktivistik berpandangan
bahwa pengetahuan sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus
berkembang dan berubah.konsep konsep yang dulu dianggap kuat,seperti hokum
newton dan fisika ternyata terus berubah karena dapat lagi member penjelasan
yang menandai (suparno 1997).Teori belajar Sinertik
Menurut adalah pengolahan informasi.Sekilas teori ini mempunyai kesamaan dengan
teori kognitif yang mementingkan proses.Jadi masing-masing teori menjelaskan belajar dan
pembelajaran dalam pengertian yang berbeda-beda.
B. Saran
Dalam konteks ini peran guru
tidaklah kecil. Guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan terdepan
dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan, kemampuan serta
keterampilannya. Oleh karena itu disaran kepada semua yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan khususnya guru
dapat membaca dan memahami Teori-teori pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Nirwana,herman dkk.2006.belajar pembelajaran.padang.Tim penyusun Unp
http://biologi-lestari.blogspot.com/2013/03/teori-teori-belajar-dan-pembelajaran.html
Baharuddin,
Wahyuni. 2010. Teori belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media.
Gulö, W.
2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar